PENGESAHAN RKAP 2018: KWSG RENCANA DIRIKAN BPRS

rkap 2018 pembahasan

Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG) tetap optimis menatap tahun 2018 yang masih diwarnai ketidakpastian. Hal itu tercermin dalam rapat anggota pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) tahun 2018 yang berlangsung di Legend Resto, Gresik, Kamis (21/12). Salah satu yang mengemuka adalah pengembangan unit bisnis simpan pinjam menjadi Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

Rencana ini, menurut Ketua Pengurus KWSG Edi Kartika, dilatarbelakangi tren unit bisnis pengembangan usaha yang selalu memberikan profit paling bagus. “Karena itu harus kita kembangkan. Selama ini nasabahnya kan terbatas di lingkungan Semen Gresik saja, yang jumlahnya hanya 6.000 anggota,” terang Edi dalam rapat yang dihadiri ratusan anggota tersebut, termasuk dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindag Gresik, serta Dekopin Gresik.

Dengan bertransformasi jadi BPRS otomatis akan bisa melayani nasabah dari luar. Tentu saja syarat-srayatnya beda dengan syarat bagi anggota KWSG. Selama ini anggota KWSG tidak perlu pakai jaminan bila hendak meminjam uang. “Kalau nasabah dari luar tidak bisa, harus ada jaminan. Itu pun ditaksir, nilai pinjaman maksimal 70 persen dari nilai jaminan. Misalnya jaminan tanah Rp 10 juta, maka pinjaman maksimalnya Rp 7 juta,” bebernya.

Ketentuan lainnya, sebut Edi, nasabah luar tidak menikmati SHU (sisa hasil usaha) yang didapat KWSG. BPRS baru ini diharapkan sudah beroperasi tahun depan. Saat ini KWSG tengah melakukan kajian mendalam sekaligus mempersiapkan tahap demi tahap pendiriannya. “Sasaran awal kami adalah para pelanggan KWSG di seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 9.000. Yang penting saat ini sudah diizinkan oleh anggota, itu dulu,” tegasnya.

 

Di samping rencana pendirian BPRS, sejumlah keputusan strategis lain juga ditetapkan dalam Rapat Anggota KWSG. Antara lain perubahan susunan pengurus menjadi: ketua Edi Kartika, sekretaris Nixo Armadani, serta  bendahara Nanik Indriyani. Nixo merupakan nama baru yang masuk ke jajaran kepengurusan, menggantikan Ahmad Sujono.

Rapat juga menetapkan kenaikan simpanan wajib anggota dari Rp 20 ribu menjadi Rp 50 ribu, mulai Januari 2018. Edi Kartika lebih jauh mengatakan, tahun depan KWSG mematok target revenue Rp 2,91 triliun. Angka ini naik 8 persen dari prognosa tahun 2017 sebesar Rp 2,7 triliun, yang didapat dari 9 lini bisnis eksisting.

Perolehan SHU sebelum pajak sebesar Rp 9,23 miliar atau naik 35 persen dari prognosa 2017 sebesar Rp 6,8 miliar. “Target-target tersebut ditetapkan secara realistis, dengan mempertimbangkan kondisi perekononian nasional serta stimulus yang diluncurkan pemerintah untuk menggairahkan kembali sektor riil,” ujar Edi yang juga memberi penekanan pada implementasi IT untuk meningkatkan daya saing.